Senin, 21 November 2016

Zamzami, Sang Pengekspor Gaplek

Zamzami, Sang Pengekspor Gaplek



Ahmad Zamzami adalah anak petani Desa Bangunrejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Usaha bisnis gaplek zebra miliknya mampu menyerap 200 tenaga kerja lokal yang rata-rata adalah pengangguran dan buruh tani.

Gaplek zebra Zamzami telah menembus pasar Singapura melalui sebuah perusahaan di Surabaya. Gaplek yang terbuat dari ketela pohon (Manihot utilissima) kering itu juga telah menjadi langganan dua koperasi pakan ternak di Rembang.

Setiap bulan, Zamzami mampu menghasilkan 200 ton ketela pohon, bahan baku gaplek. Ketela pohon sebanyak itu dapat menjadi gaplek sekitar 150 ton per bulan karena ada bagian-bagian tertentu dari ketela pohon yang dibuang.

Saat ini, harga gaplek Rp 900 per kilogram. Omzet dari pemuda yang masih di semester III di Fakultas Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YPPI Rembang itu mencapai Rp 135 juta per bulan.

Capaian Zamzami itu tidak terlepas dari filosofi hidupnya, "bangkit dari tidur." Manusia harus berusaha segiat mungkin tidak sekadar bermimpi dan jeli mencari celah-celah usaha.

Filosofi itu pun dia ungkapkan dalam sebuah proposal ajakan kerja sama yang ditujukan kepada Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kebunharjo Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Lebih kurang, Zamzami menuliskan begini, ”Memijakkan kaki di lahan yang tidur untuk menggugah pola pikir masyarakat yang tidur.”

Zamzami memulai bisnisnya dari tiga kegundahan hatinya. Pertama, dia khawatir setelah lulus kuliah menganggur. Kedua, di desanya terlalu banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Ketiga, di desanya banyak penganggur dan buruh tani yang membutuhkan penghasilan lain saat tidak menggarap lahan.

Bersamaan dengan itu, gerakan penanaman ketela pohon sebagai bahan baku bioetanol sedang gencar di Kabupaten Pati dan Rembang. Bahkan, ada rencana membangun pabrik mini pengolahan bioetanol.

”Saya menganggap itu sebagai peluang mengembangkan usaha. Waktu itu, saya ingin memanfaatkan lahan kosong Perhutani untuk ditanami ketela pohon,” ujar Zamzami seperti dikutip Kompas.

Zamzami menceritakan kegundahan, keinginan, dan impian itu kepada orangtuanya, Yahya (45) dan Fasiah (40). Orangtua Zamzami pun mendukung. Mereka bahkan memberikan modal dengan menjual tanah keluarga senilai Rp 100 juta.

”Ayah saya juga memberikan nasihat hidup yang selalu terngiang. Kalau kerja jangan sampai ikut orang. Lebih baik usaha sendiri meski untungnya sedikit itu hasil jerih payah sendiri,” kata Zamzami.

Dengan mengajak sejumlah rekan lain agar ikut menambah modal, Zamzami membuka tempat usaha, Wana Jati Utama Sejahtera. Dengan modal yang terkumpul Rp 225 juta, usaha pun bergulir.

Zamzami memanfaatkan modal untuk menyewa lahan tidur Perhutani seluas 70 hektar selama dua kali musim tanam. Per hektar lahan, Zamzami harus membayar Rp 200.000.

Setelah membersihkan dan mengolah tanah lahan tidur itu, Zamzami menanam ribuan stek ketela pohon. Dalam delapan bulan, Zamzami mampu memanen sekitar 18 ton ketela pohon per hektar lahan. Dia memperkirakan, dengan lahan 70 hektar, ketela pohon yang dipanen mencapai 1.260 ton.

Melalui usaha itu, Zamzami mampu merangkul sekitar 200 tenaga kerja lokal. Mereka itu para pemuda desa yang menganggur, para istri buruh tani, dan buruh tani yang ingin mencari tambahan penghasilan. Perempuan mendapat upah Rp 17.500 per hari, sedangkan lelaki Rp 20.000-Rp 25.000 per hari. ”Mereka bekerja secara bergantian, mulai dari babat hutan, menanam, merawat tanaman, memanen, merajang ketela, mengeringkan, hingga mengepak gaplek,” kata Zamzami.

Namun, saat mendekati masa panen ketela pohon, kabar mengenai pembangunan pabrik bioetanol semakin kabur. Zamzami bahkan mendengar langsung, pabrik itu tidak jadi didirikan. Akibatnya, sejumlah petani penanam ketela pohon kelimpungan menjual panenan.

Harga ketela pohon pun jatuh drastis, dari Rp 900 per kg menjadi Rp 300 per kg. Lantaran tidak mau merugi, Zamzami berupaya mencari pasar lain penampung hasil panen ketela pohon. ”Akhirnya, saya memilih menjadikan panen ketela pohon itu sebagai gaplek karena tren pasarnya sedang naik. Harganya pun relatif bagus. Harga gaplek Rp 900 per kg,” ujar Zamzami. Dia pun sukses dengan berbisnis gaplek. Produknya bahkan diekspor ke luar negeri. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Agrobisnis Lainnya

Jumat, 18 November 2016

Nasrudin, Sang Maestro Lele

Nasrudin, Sang Maestro Lele



Kecebong muncul di kolam, membuat Nasrudin gembira karena dia mengira kecebong itu anak ikan lele. Kegembiraannya itu sirna dan dia tersipu malu ketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan lele itu adalah kecebong. Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan menetas bersama dua indukan ikan lele betina dan seekor jantan.

Itu pengalaman pertama Nasrudin delapan tahun lalu saat belajar beternak ikan lele. ”Kecebong disangka anak lele. Ngerakeun pisan (sangat memalukan),” kata Nasrudin, menuturkan awal usahanya menjadi peternak ikan lele, di Saung Pertemuan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Jaya Sentosa, awal November lalu. Saung itu berdiri di tepi puluhan kolam ikan lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000 meter persegi di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kini, dia tak lagi dipermalukan atas ketidaktahuannya. Nasrudin sudah tersohor berkat lele sangkuriang yang mulai dikembangbiakkan pada 2001. Dia mengawali usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 lele sangkuriang yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Nama sangkuriang yang diberikan itu memang diambil dari legenda Tanah Pasundan untuk menandakan lokasi asal pembiakan lele jenis tersebut.

Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada 1985.

Petugas penyuluh pertanian dan perikanan setempat memberikan bimbingan beternak ikan secara benar. Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil mengembangkan ikan lele sangkuriang.

Dia kini sudah menjadi ”pendekar lele”, bukan saja mahir dalam membesarkan lele dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang diserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Obat ini diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan.

Sejak 2005, dia menjadi pelatih bagi kelompok dari sejumlah daerah, termasuk sejumlah karyawan perusahaan swasta dan pemerintah menjelang pensiun yang ingin beternak lele. Namanya pun sohor menjadi ”Nasrudin Lele” dari Desa Gadog. Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki Nasrudin dengan sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang dipelesetkan menjadi Letkol—sehingga dia kemudian disebut ”Letkol” Nasrudin.

Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele. ”Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas 1 meter x 1 meter, serta modal Rp 75.000 untuk bibit dan pakan, sudah bisa beternak lele skala kecil,” kata Nasrudin seperti dikutip Kompas.

Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada mereka yang ingin membudidayakan lele. Dia juga siap membantu mereka yang datang menimba ilmu di P4S Gadog tanpa dipungut biaya.

Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin akan angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele sangkuriang.

Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang ”Cahaya Kita” untuk wilayah tengah Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.

Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang tergabung dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang.

Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari Jawa Tengah.

”Saat ini boro-boro memasok ke Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Kota/Kabupaten Bogor saja kekurangan. Kami peternak lele sangkuriang di daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan sekitar 10 ton,” kata ”Letkol” Nasarudin. Dari kolamnya sendiri, Nasrudin baru mampu memasok sekitar 2 ton per minggu kepada pelanggannya. Lele sangkuriang dijual Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Agorbisnis Lainnya

Selasa, 15 November 2016

Sukses Berawal dari Rasa Kangen

Sukses Berawal dari Rasa Kangen




Kalau kebetulan sedang berkunjung ke Medan, Anda bakal menemukan banyak penjual manisan jambu bangkok. Makanan ini merupakan salah satu oleh-oleh favorit khas kota Medan. Maklum, warna hijau cerah manisan ini menggoda. Rasanya pun yahud, apalagi jika dicocol ke bumbu rujak.

Lantaran banyaknya penggemar manisan jambu bangkok, para pengusaha pun berlomba mengejar peruntungan dari bisnis pembuatan dan penjualan manisan ini. Tak hanya di Medan, bisnis manisan jambu biji ini juga cukup marak di daerah lain.

Salah satu pemain di luar Medan yang sukses adalah Daniel Andijaya. Daniel adalah pemilik Trinity, perusahaan pengolah manisan jambu bangkok di Jakarta, yang dia dirikan 2003 silam. Ide Daniel berbisnis manisan jambu bangkok muncul saat ia kangen mencicipi makanan khas Medan itu. “Saya dulu sempat kuliah di Medan,” terangnya kepada Aprilia Ika dari Harian Kontan.

Daniel tidak bisa menemukan makanan itu di Jakarta. Ia pun lantas nekad mulai berbisnis manisan jambu bangkok. Untuk memodali usahanya itu, Daniel mengorek isi tabungannya. Modal itu ia belikan jambu bangkok dari Cilebut, yang kemudian diolahnya menjadi manisan.

Lalu dia menitipkan penjualan manisan buatannya itu di toko buah milik temannya. Tak disangka, manisan jambu bangkok olahan Daniel laris manis. Maklum, saat itu belum ada pesaing. Bisnis manisan jambu bangkok Daniel berkembang pesat. Bahkan, dia mendapat tawaran memasok produknya di dua jaringan ritel modern besar.

Seiring meningkatnya permintaan, petani jambu bangkok di Cilebut kewalahan memenuhi permintaan Daniel. Itu sebabnya Daniel kemudian memasok jambu biji dari Medan. “Di Medan pasokan stabil, karena kebunnya luas,” papar Daniel.

Kapasitas produksi Trinity memang meningkat pesat. Jika di awal berdiri, Daniel hanya mengolah ratusan kilogram jambu per bulan, kini dia bisa mengolah 30 ton jambu per bulan. Untuk produksi sebanyak ini, Daniel kini mempekerjakan 15 karyawan. Untuk menghasilkan manisan yang sedap, Daniel hanya menggunakan jambu yang tingkat kematangannya 70 persen. Dia menambahkan, jambu yang matang tidak enak dijadikan manisan.

Sebelum dijadikan manisan, jambu dikupas dan dibuang bijinya terlebih dulu. Setelah itu, jambu bangkok dipotong-potong dan direndam dalam air daun suji agar warna hijaunya semakin menyala. Daniel mengemas manisan jambu bangkok menjadi kemasan seberat 7-8 ons. Tak lupa, dia menambahkan bumbu rujak. Daniel menjual manisan tersebut dengan harga Rp 9.000-10.000 per kemasan ke toko. “Harga jual ke konsumen tergantung toko,” jelasnya.

Daniel mengaku meraup omzet Rp 200 juta setiap bulan dari usaha manisan ini. Pria berusia 39 tahun ini mengaku hanya mengambil margin sebesar lima persen dari harga jualnya. Cuma, sejak masuk tahun 2009, bisnis penjualan manisan jambu bangkok Daniel tidak terlalu bagus. Penjualan manisan jambu menurun. Dia terpaksa mengurangi pasokan manisan di beberapa gerai ritel modern. “Itu sengaja saya lakukan, kalau tidak saya bisa rugi Rp 6 juta per bulan,” tuturnya.

Pasalnya, selain karena permintaan berkurang, manisan jambu juga termasuk makanan yang tidak tahan lama. Kalau lama tak terjual atau mesin pendingin di toko tidak bagus, manisan jambu akan rusak. Kalau sudah begitu, manisan jambu terpaksa dibuang sebelum terjual. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Lainnya di Ayopreneur